Apa Itu Malam 1 Muharram : Tradisi Islam dan Kejawen

Saniter.co.id – Tahukah apa itu malam 1 MuharramDalam system penanggalan islam yang mengacu pada peredaran bulan/hijriyah, peringatan awal tahun baru islam jatuh pada tanggal 1 muharram. Untuk mengetahui apa yang dimaksud tradisi malam 1 Muharram, bisa menyimak penjelasan lengkapnya di bawah ini.

Sejarah penetapan ini diawali dari usulan salah satu sahabat Rasulullah SAW, yakni Ali bin Abi Thalib. Dimana beliau memilih muharram karena pada bulan tersebut, wacana Rasulullah untuk berhijrah dari Makkah ke Madinah sebagai simbol perpindahan masa jahiliyah ke masyarakat madani telah dimulai. Hal itu pulalah yang mendasari Ali dalam mengusulkan peristiwa hijrah tersebut sebagai awal tahun islam.

Sumber: Tribun Kaltara

Setelah mengetahui asal-muasal penetapan 1 muharram, sudah bisa dipastikan bahwa begitu mulianya bulan ini hingga Rasulullah menganjurkan umat muslim untuk beramal baik, salah satunya adalah berpuasa dan berdoa awal serta akhir tahun sesuai hadis Riwayat Muslim yang memiliki arti:

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR Muslim).

Tidak hanya anjuran berpuasa pada bulan muharram, namun terdapat pula keutamaan khusus berpuasa satu hari di bulan tersebut bernilai pahala 30 hari berpuasa, yakni hadits yang diriwayatkan oleh at-Thabrani yang memiliki arti:

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda: ‘Orang yang berpuasa pada hari Arafah maka menjadi pelebur dosa dua tahun, dan orang yang berpuasa sehari dari bulan Muharram maka baginya sebab puasa setiap sehari pahala 30 hari puasa’.” (HR at-Thabarani).

Malam 1 Muharram: Tradisi Islam dan Tradisi Kejawen Jawa

malam 1 muharram

Berbicara mengenai peringatan 1 muharram sebagai tahun baru islam, terdapat satu keterkaitan antara hari besar islam ini dengan tradisi jawa, dimana bulan muharram memiliki arti sama dengan bulan suro. Nama suro diambil dari Bahasa arab yakni Asyura yang artinya hari kesepuluh. Sehingga bisa disimpulkan bahwa suro adalah sebutan bagi bulan muharram pada masyarakat Jawa.   

Di samping memiliki kesamaan dalam hal arti, peringatan malam 1 muharram dan 1 suro juga memiliki kesamaan dalam tradisi perayaan. Biasanya, malam 1 muharram di daerah tertentu dimeriahkan dengan kegiatan multicultural dan gelar budaya setempat dengan tetap mengintegrasikannya dengan nilai-nilai Islami. Contohnya arak karnaval dengan sholawat yang dilantunkan oleh para pesertanya.

Kegiatan semacam ini salah satunya terdapat di Ponorogo dengan sebutan Grebeg Suro, dimana pada tradisi ini, masyarakat menggelar pawai, kirab sejarah, larungan doa dan seni kebudayaan khas yakni reog. Warga setempat juga mengadakan tirakatan, yaitu tidak tidur semalaman untuk menyambut tahun baru islam.

tradisi malam 1 muharram jawa
Sumber: Website Pemerintah Kabupaten Ponorogo (ponorogo.go.id)

Selain itu, di Pulau Bangka, masyarakat Melayu Bangka Belitung juga memiliki tradisi Nganggung untuk merayakan tahun baru islam dengan membawa makanan dari masing-masing rumah penduduk menuju ke suatu tempat pertemuan besar, biasanya Masjid, Langgar, Lapangan atau Surau.

Kata ‘Nganggung’ sering disebut juga Sepintu Sedulang, atau dapat diartikan sebagai setiap rumah (setiap pintu) membawa satu dulang (sedulang), yaitu wadah makanan yang terbuat dari kuningan maupun seng dengan penutup tudung saji (dulang).

tradisi malam muharram
Sumber: Website Negeri Laskar Pelangi

Namun, terlepas dari berbagai jenis perayaan setiap daerah dalam rangka memperingati tahun baru Islam-atau dalam masyarakat jawa disebut 1 suro-, terdapat makna lain yang pada lapisan masyarakat tertentu dikaitkan dengan mistis. Pasalnya dipercaya bahwa malam 1 suro menjadi gerbang antara dunia gaib dan dunia manusia.

Jika dalam islam secara umum malam 1 muharram identic dengan penganjuran untuk memaksimalkan ibadah. Dalam hal ini adalah wirid, dzikir dan membaca doa karena malam 1 muharram merupakan malam yang mulia.

Hal ini berbeda dengan sebagian masyarakat dengan kepercayaan mistis yang masih kuat, dimana mereka mengartikan bahwa datangnya 1 suro merupakan hari dimana kita tidak boleh melakukan larangan agama karena dipercaya akan membawa petaka dan musibah.

Di samping itu, malam 1 suro juga dipercaya merupakan malam turunnya bala’ dan celaka. Hal ini lantaran di malam tersebut orang-orang yang bersekutu dengan iblis atau alam gaib akan keluar untuk mencari mangsa. Sehingga malam 1 suro diyakini sebagai waktu yang berbahaya dan sangat dilarang untuk keluar rumah sampai fajar tiba.

Jika ada yang melanggar, maka dipercaya akan ada kesialan dan hal buruk yang menimpa. Ditelusur dari beberapa sumber, mangsa-mangsa potensial yakni yang berdarah weton atau darah manis, kemudian weton-weton tertentu yakni kamis legi, selasa pon, minggu legi dan rabu pahing.

Berdasarkan dua tradisi dan kepercayaan yang berbeda ini, memang kita tidak bisa menyalahkan apa yang sudah menjadi keyakinan turun-temurun pada suatu daerah. Utamanya masyarakat yang masih tinggal di pedalaman yang jauh dari kota dan akses pengetahuan, sehingga menjadi sangat wajar jika kepercayaan akan hal-hal tak kasat mata atau mistis masih kental dan mengakar kuat.

Terlepas dari perbedaan tersebut, yang harus dilakukan adalah saling menghormati kepercayaan seseorang selama tidak merugikan satu sama lain dan tetap hidup berdampingan.

Itulah penjelasan mengenai apa itu 1 Muharram, kaitannya dengan tradisi Islam dan tradisi kejawen Jawa.

Baca Juga: